Puisi : Antara Gedung, Gudang, Kita, dan Mereka
Postingan tentang OSN dipending dulu ya. Lagi males aja nulis-nulis kayak gitu :D
Nah, kemarin kan ada tugas bahasa Indonesia untuk membuat puisi kontemporer yang mengandung bahasa daerah (puisi saya cuman mengandung satu kata bahasa daerah, BTW :v). Setelah saya buat, kayaknya sayang banget kalau cuman untuk tugas. Jadi, saya post aja di blog ini :D
Puisi ini bercerita tentang kita yang munafik, yang suka mengaku-aku keberhasilan dan melempar kegagalan.
Karena saat membuat puisi ini saya sedang membaca Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita-nya M. Aan Mansyur, jadi, puisi ini mungkin sedikit-banyak terpengaruh oleh TTyMKdS :v
Langsung aja, ini puisinya :
Nah, kemarin kan ada tugas bahasa Indonesia untuk membuat puisi kontemporer yang mengandung bahasa daerah (puisi saya cuman mengandung satu kata bahasa daerah, BTW :v). Setelah saya buat, kayaknya sayang banget kalau cuman untuk tugas. Jadi, saya post aja di blog ini :D
Puisi ini bercerita tentang kita yang munafik, yang suka mengaku-aku keberhasilan dan melempar kegagalan.
Karena saat membuat puisi ini saya sedang membaca Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita-nya M. Aan Mansyur, jadi, puisi ini mungkin sedikit-banyak terpengaruh oleh TTyMKdS :v
Langsung aja, ini puisinya :
Antara Gedung, Gudang, Kita, dan Mereka
Gedung-gedung
itu timbul dari sawah-sawah kita
Gudang-gudang
itu muncul dari petuah-petuah tua – petuah yang kita ludahi sendiri
Kita
mengangguk dan menunjuk mereka
yang datang tanpa taring
Kita
pulang dan mengarang cerita
mereka mengancam geram
Kita
menunduk dan menguncup ketika mereka berterima kasih dengan angan
yang mengangin
Kita
ber-jancuk
ria ketika derap tegap mereka
tak terindera lagi
Gedung-gudang itu membawa kita ke tempat yang lebih tinggi --
lebih tinggi dari apapun
Sejak saat itu kita dikelilingi orang-orang yang (kini) tidak kita
kenal – entah untuk apa
Lalu kita memperkenalkan diri sebagai tokoh utama --
tokoh yang paling berdaya
Yang mengubah sawah-sawah itu, yang melangkahi petuah-petuah itu
Tanpa kita sadari mereka tertawa sendiri
Gedung-gudang itu membawa kita ke tempat yang lebih rendah --
lebih rendah dari apapun
Lebih rendah dari tanah sekali pun
Lalu kita memperkenalkan diri sebagai tokoh utama --
tokoh yang paling dianiaya
Yang sawah-sawahnya diubah, yang petuah-petuahnya dilangkah
Mereka lebih tertawa lagi
Kali ini kita sadari
Tangerang Selatan, 16 Oktober 2014

