Tragedi 1998, Salah Siapa?
Kurang dari 2 bulan lagi Indonesia akan melakukan sebuah ritual demokrasi lima tahun-an sekali, yaitu pemilihan presiden. Karena hanya ada 2 calon, pendukung masing-masing calon pasti hanya menyerang calon yang satunya (ya iya lah -_-).
Setelah saya perhatikan, serangan-serangan ke salah satu calon rata-rata sangat kuat, intelektual, dan sulit dibantah. Lain halnya dengan serangan ke calon yang satunya lagi, yang agak berbobot hanya satu serangan, yaitu tentang tragedi masa lalu. Yang lainnya hanya masalah rumah tangga lah, masalah (maaf) dikebiri lah, masalah harta lah, dan hal-hal sampah lain. Mengapa masalah harta saya anggap sampah? Ya memang sampah. Kekayaan seseorang tidak berpengaruh terhadap kepemimpinannya. Orang Indonesia rata-rata bodoh karena mengikuti logika sinetron : semakin kaya semakin jahat, semakin miskin semakin baik.
Setelah melihat fakta itu, saya jadi bertanya-tanya, apakah satu-satunya serangan itu juga sebenarnya sampah? Ternyata : ya! Hanya sekali googling, kita bisa langsung melihat bantahan-bantahan yang kuat secara nalar dan memang masuk akal. Jawabannya saya ambil dari situs Si Maskot--setelah saya verifikasi lagi ke berbagai sumber informasi di internet. Ternyata hal ini sangat terkait dengan panglima sat itu, salah satu pemimpin partai kecil yang juga pernah gembar-gembor sebagai calon presiden, tetapi karena hanya mendapat suara sedikit, akhirnya cuman bisa dukung calon lain ( Tentunya bukan calon yang saya bicarakan sekarang. Kenapa? baca terus kisahnya ._.). Selanjutnya kita sebut Mr. X.
Seperti sudah saya sebutkan, hal ini sangat terkait dengan Mr. X. Jauh sebelum kejadian 1998, sang calon dan Mr. X sudah menjadi rival. Sang calon--yang sudah terbiasa dan dibiasakan dengan kompetisi sehat-- melawan Mr. X--yang mirip-mirip presiden saat itu jika berhadapan dengan kompetisi. Mr. X memang sudah tidak setuju dengan pengangkatan sang calon sebagai pangkostrad. Ini dibuktikan dengan ketidak hadirannya di acara serah terima pangkostrad.
Pada dasarnya, ada 3 tuduhan terhadap sang calon : penculikan aktivis, penembakan mahasiswa, dan dalang kerusuhan.
Pertama, penembakan mahasiswa. Sang calon sudah bersumpah demi Allah, sumpah yang paling saya percaya, bahwa beliau tidak pernah memerintahkan penembakan itu. Dan memang setelah uji balistik, ternyata peluru berasal dari polri unit gegana. Sang calon waktu itu hanyalah seorang pangkostrad, tidak ada kaitannya dengan polri. Sedangkan Mr. X? Ia panglima. Dan ada peristiwa mencurigakan antara ia dengan kapolri. Bisa anda baca di sumber yang saya berikan.
Juga untuk peristiwa kerusuhan, kita lihat ada keanehan dalam sikap Mr. X. Pada saat itu, kondisi DKI sedang genting-gentingnya. Tetapi bukannya memimpin langsung komando ABRI, Mr. X malah pergi ke Malang hanya untuk menjadi inspektur upacara, walaupun sebenarnya sang calon sudah menunjuk seseorang untuk menjadi inspektur upacara tersebut. Mr. X mengambil-alihnya, dan mengabaikan situasi genting DKI. Padahal, banyak pihak yang sudah mengingatkan situasi DKI yang tak terkendali.
Mustahil Mr. X tidak tahu kondisi DKI saat itu.
Sesungguhnya, sang calon sudah berulang kali mengingatkan Mr. X untuk membatalkan niatnya tersebut. Tetapi ia tak mau. Bahkan ia tidak memerintah pasukan untuk berada di DKI. Justru sang calon lah yang membantu pengamanan di DKI.
Sang calon kemudian membantu Pangdam Jaya dengan mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang untuk bantu Kodam. Tapi sekali lagi Mr. X tidak mau memberi bantuan Pesawat Hercules sehingga sang calon mencarter sendiri Pesawat Garuda dan Mandala. Seharusnya jika negara dalam keadaan genting seperti itu, Panglima wajib mengambil alih komando dan secara fisik wajib berada di lokasi. Tapi yang terjadi justru tidak terlihat sedikitpun itikad baik Mr. X untuk mencegah terjadinya kerusuhan yang menelan korban hingga ribuan orang tersebut. Anehnya justru belakangan kubu Mr. X lah yang melemparkan kesalahan kepada sang calon yang dianggap mengakibatkan kerusuhan itu.
Ketika sang calon mengerahkan pasukan untuk menghentikan penjarahan toko-toko, Mr. X justru malah melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya.
Juga untuk peristiwa kerusuhan, kita lihat ada keanehan dalam sikap Mr. X. Pada saat itu, kondisi DKI sedang genting-gentingnya. Tetapi bukannya memimpin langsung komando ABRI, Mr. X malah pergi ke Malang hanya untuk menjadi inspektur upacara, walaupun sebenarnya sang calon sudah menunjuk seseorang untuk menjadi inspektur upacara tersebut. Mr. X mengambil-alihnya, dan mengabaikan situasi genting DKI. Padahal, banyak pihak yang sudah mengingatkan situasi DKI yang tak terkendali.
Mustahil Mr. X tidak tahu kondisi DKI saat itu.
Sesungguhnya, sang calon sudah berulang kali mengingatkan Mr. X untuk membatalkan niatnya tersebut. Tetapi ia tak mau. Bahkan ia tidak memerintah pasukan untuk berada di DKI. Justru sang calon lah yang membantu pengamanan di DKI.
Sang calon kemudian membantu Pangdam Jaya dengan mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang untuk bantu Kodam. Tapi sekali lagi Mr. X tidak mau memberi bantuan Pesawat Hercules sehingga sang calon mencarter sendiri Pesawat Garuda dan Mandala. Seharusnya jika negara dalam keadaan genting seperti itu, Panglima wajib mengambil alih komando dan secara fisik wajib berada di lokasi. Tapi yang terjadi justru tidak terlihat sedikitpun itikad baik Mr. X untuk mencegah terjadinya kerusuhan yang menelan korban hingga ribuan orang tersebut. Anehnya justru belakangan kubu Mr. X lah yang melemparkan kesalahan kepada sang calon yang dianggap mengakibatkan kerusuhan itu.
Ketika sang calon mengerahkan pasukan untuk menghentikan penjarahan toko-toko, Mr. X justru malah melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya.
Pada akhirnya, kita lihat lagi kerusuhan yang terjadi. Ternyata, kerusuhan itu terjadi secara serentak di seluruh penjuru kota, bahkan di Solo. Padahal biasanya kerusuhan yang terjadi karena spontanitas warga bersifat meluas dan menjalar. Ini membuktikan bahwa kerusuhan tersebut sudah diatur, dan kita bisa menyimpulkan sendiri kubu mana yang mengaturnya.
Akhirnya, setelah berbagai peristiwa berlalu, presiden menyatakan mundur. Siapa yang paling diuntungkan dengan mundurnya presiden? Yang jelas, Mr. X menjadi sangat muda menghancurkan karier militer sang calon.
Pada 19 Mei, Mr. X melakukan rapat yang dihadiri para perwira tinggi militer. Kembali terjadi perbedaan antar Mr. X dengan sang calon. Mr. X memerintahkan untuk mencegah masuknya demonstran dengan segala cara. DENGAN SEGALA CARA. Termasuk menggunakan peluru tajam? Sang calon mempertanyakan perintah tersebut.
KIVLAN ZEIN MENGGELAR TANK DAN PANSER DENGAN PERINTAH, "LINDAS SAJA MEREKA YANG MEMAKSA MASUK MONA!"
Untuk selanjutnya, Mr. X selalu selangkah lebih maju dari sang calon dalam hubungan dengan presiden yang mundur dan presiden selanjutnya. Hubungan antara sang caon dengan para presiden yang awalnya harmonis pun akhirnya berujung dengan permusuhan, penghardikan, dan pemecatan.
Untuk materi yang lebih lengkap, silakan buka sumber saya.